Jumat, 24 Februari 2012

Mengapa Takut Berjilbab...............?

Ratih telah merintis segalanya, karir, popularitas, kekayaan dalam waktu yang demikian panjang. Kini disaat semua itu telah ada dalam genggaman. Haruskah ia lepaskan kembali segalanya, hanya karena ingin menunaikan perintah Allah untuk menutup aurat?
Tidak, aku belum sanggup melakukannya sekarang, batin ratih. Bagaimana nnt bila tidak ada wartawan yang datang kepadaku? Bagaimana bila nnt aku tak diterima lagi oleh kawan-kawanku yang serba gemerlap? Bagaimana jika aku kehilangan tawaran menjadi pembicara seminar-seminar? Bagaimana jika karirku sebagai model kelas satu harus berakhir secara menyedihkan?
Ratih terus merenung dan merenung. Mempertimbangkan lagi semuanya. Menghadirkan lagi argumen-argumen pada ruang batin yang masih ada. Dua puluh tahun yang lalu, semua itu berawal. Ratih merintis karir modeling dengan menjuarai kontes-kontes kecantikan. Gelar putri remaja dan None jakarta berhasil ia menangkan, kemudian beranjak menekuni pentas-pentas catwalk hingga menjadi model terkenal. Tak terasa waktu dan prestasi mengantarkannya menjadi model nomor satu tanah air, dan bahkan go internasional. Ya. Berada di puncak karir telah memberikan ratih  suatu kehidupan yang sangat mengasyikkan, glamour, dan penuh sensasi. Ia habiskan waktu untuk menikmati kemegahan kota-kota besar dunia. Dan kini, saat ratih mulai menyadari bahwa ada kewajiban syariat yang harus diemban sebagai seorang muslimah, haruskah ia menyingkirkan segalanya begitu saja?
Tapi kepada sang pencipta jualah akhirnya ia mengadu. Ratih sadari. Allahlah yang telah memberikan semua yang ia miliki sekarang. Allah pula lah yang berhak mencabutnya dan tak seorangpun mampumenghentikannya. Hanya di tangannyalah urusan rezeki, dan allah berhak memberikan kepada siapa saja yang dia kehendaki. Aku harus menyadari semua ini. Aku harus menguatkan hatiku, batin ratih. Allah telah memberikan segalanya bagi ku, penampilan yang mempesona, karir yang sukses, keluarga yang bahagia, maka kapankah giliranku untuk menunjukkan rasa syukur atas semua karunia itu? Bagaimana jika sebelum aku berbakti, ajal sudah menjemputku? Begitulah bisik ratih setiap kali bimbang menyergapnya.
Setelah sekian lama ratih berdoa memohon petunjuk dan kemantapan hati, akhirnya allah menjawab keraguannya. Sebuah perusahaan kosmetik islami tiba-tiba saja mengontraknya untuk menjadi model produk mereka.
Maka ia putuskan untuk mengenakan busana muslimah, sesuai tuntutan syariah. Selamanya, meski para wartawan mengerubunginya, mempertnyakan kemantapan hatinya, bahkan ada yang terang-terangan bersikapmenyayangkan, ratih tak gamang. Bahkan lama sebelum foto-foto dalam iklan kosmetik muslim, ratih sudah dulu berjilbab rapat.
Tahukah anda? Disaat model-model lain yang seusia dengannya telah surut dari sorotan publik, justru ratih sebaliknya. Berbagai tawaran pekerjaan membanjirinya. Para wartawan  yang kagum dengan perubahan ratih terus mengincar berita. Semua ketakutan ratih tak menjadi kenyataan, dan justru , semua keberkahan ini ia dapatkan setelah menunaikan syariat menutup aurat.
Jadi, mengapa harus takut berjilbab?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar