MENINGKATKAN MOTIVASSI BELAJAR
SISWA PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA
DENGAN METODE INSIDE OUTSIDE CIRCLE DI KELAS V SD NEGERI 060876 MEDAN TIMUR TA.
2011/2012
Noera
Sururi
NIM.
081211910008
Jurusan
Pendidikan Pra Sekolah dan Sekolah Dasar (PPSD)
Fakultas
Ilmu Pendidikan
Universitas
Negeri Medan
ABSTRAK
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh motivasi
belajar siswa rendah, metode
pembelajaran masih bersifat satu arah, adanya asumsi siswa bahwa matematika
merupakan pembelajaran yang sulit, siswa kurang tekun dalam belajar matematika,
guru tidak menggunakan variasi dalam kegiatan pembelajaran sehingga
pembelajaran matematika terasa sangat membosankan.
Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan motivasias
belajar peserta didik pada mata pelajaran Matematika di kelas V SD Negeri
060876 Medan Timur. Dan secara umum penelitian ini betujuan untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik
pada mata pelajaran Matematika, meningkatkan motivasi guru untuk menggunakan
metode Inside Outside Circle pada mata pelajaran Matematika, menciptakan suasana
pembelajaran yang aktif dan menyenangkan pada pelajaran Matematika, meningkatkan rasa percaya
diri peserta didik dalam mengungkapkan pendapat.
Kata
Kunci : PTK, Motivasi, metode Inside
Outside Circle
PENDAHULUAN
1.
Masalah
Penelitian
Dalam belajar matematika,
siswa diharapkan memiliki nilai yang baik. Nilai yang baik adalah apabila siswa
memiliki motivasi yang kuat sehingga hasil belajar siswa mencapai Kriteria
Ketuntasan Minimal (KKM) yang sudah ditetapkan
oleh satuan pendidikan berdasarkan hasil musyawarah guru mata pelajaran. KKM
merupakan kriteria yang paling rendah untuk menyatakan peserta didik mencapai
ketuntasan dalam belajar.
Berdasarkan hasil
observasi yang dilakukan peneliti bahwa pembelajaran matematika di SD Negeri
060876 Medan Timur kurang diminati oleh siswa dan metode yang digunakan dalam mengajar
masih tergolong tidak variatif dan lebih banyak menggunakan metode ceramah.
Kondisi seperti ini akan mengakibatkan motivasi belajar siswa rendah. Dengan
kondisi yang demikian menimbulkan asumsi pada diri siswa bahwa matematika itu
adalah pelajaran yang sulit.
Salah satu cara yang
dapat diharapkan meningkatkan motivasi belajar adalah dengan menggunakan metode
Inside Outside Circle. Dengan
menggunakan metode Inside Outside Circle
menunjukkan suatu cara atau proses suatu ilmu pengetahuan. Metode Inside Outside Circle bertujuan untuk
membantu proses belajar mengajar agar lebih menarik dan membantu proses belajar
mengajar agar lebih mudah dicerna oleh siswa sehingga menumbuhkan keinginan
siswa untuk belajar matematika. Metode Inside
Outside Circle merupakan salah satu cara penyajian pelajaran, dengan
memberikan kesempatan kepada siswa agar saling berbagi informasi pada saat yang
bersamaan. Dengan metode Inside Outside
Circle proses penerimaan siswa terhadap pelajaran akan lebih berkesan dan
diharapkan siswa dengan mudah memahami materi pecahan dengan aktif, sehingga
dapat meningkatkan motivasi belajar siswa.
Untuk mewujudkan hal itu
salah satu caranya adalah dengan menggunakan metode Inside Outside Circle. Hal
inilah yang mendorong penulis untuk mengambil judul Penelitian Tindakan Kelas ”Meningkatkan
Motivasi Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Matematika dengan Metode Inside
Outside Circle di Kelas V SD Negeri 060876 Medan Timur ”.
2. Kajian
Teori
Motivasi
Belajar
Motivasi yaitu suatu
usaha yang disadari untuk menggerakkan, mengarahkan, dan menjaga tingkah laku
seseorang agar ia terdorong untuk bertindak melakukan sesuatu sehingga mencapai
hasil atau tujuan tertentu.
Motivasi dan belajar
merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Belajar adalah perubahan tingkah
laku secara relative permanen dan secara potensial terjadi sebagai hasil dari
praktik atau penguatan (reinforced practice) yang dilandasai tujuan untuk
mencapai tujuan tertentu.
Motivasi belajar dapat
timbul karena faktor intrinsik, berupa hasrat dan keinginan berhasil dan
dorongan kebutuhan belajar, harapan akan cita-cita. Sedangkan faktor
ekstrinsiknya adalah adanya penghargaan, lingkungan belajar yang kondusif, dan
kegiatan belajar yang menarik. Tetapi harus diingat, kedua faktor tersebut
disebabkan oleh rangsangan tertentu, sehingga seseorang berkeinginan untuk
melakukan aktivitas belajar yang lebih giat dan semangat.
Motivasi pada dasarnya
dapat membantu dalam memahami dan menjelaskan perilaku individu, termasuk perilaku
individu yang sedang belajar. Ada beberapa peranan penting dari motivasi dalam
belajar dan pembelajaran, antara lain dalam (a) menetukan hal-hal yang dapat
dijadikan penguat belajar, (b) memperjelas tujuan belajar yang hendak dicapai,
(c) menentukan ragam kendali terhadap rangsangan belajar, (d) menentukan
ketekunan belajar.
Ada beberapa ciri siswa yang mempunyai motivasi belajar yang
tinggi. Ini dapat dikenal melalui proses belajar mengajar di kelas. Tertarik
kepada guru, artinya tidak membenci atau bersikap acuh takacuh, tertarik pada
mata pelajaran yang diajarkan, mempunyai antusias yang tinggi serta
mengendalikan perhatiannya terutama kepada guru, ingin selalu bergabung dalam
kelompok kelas, ingin identitas dirinya diakui oleh orang lain. Tindakan,
kebiasaan dan moralnya selalu dalam kontrol diri Selalu mengingat pelajaran dan
mempelajarinya kembali.
Metode Inside Outside Circle
Untuk mengatasi berbagai
persoalan dalam pelaksanaan pembelajaran, tentu diperlukan model-model mengajar
yang dipandang mampu mengatasi kesulitan guru melaksanakan tugas mengajar dan
juga kesulitan belajar siswa.
Unsur tanggung jawab perseorangan merupakan
akibat langsung dari unsur yang pertama. Jika tugas dan pola penilaian dibuat
menurut prosedur model pembelajaran kooperatif, setiap anggota akan merasa
bertanggungjawab untuk melakukan yang terbaik. Kunci keberhasilan metode
kooperatif adalah persiapan pengajar dalam penyusunan tugasnya.
Setiap kelompok harus diberi kesempatan untuk
bertatap muka dan berdiskusi. Kegiatan interaksi ini akan memberi kesempatan
kepada para pembelajar untuk membentuk sinergi yang menguntungkan semua anggota
dengan prinsip bahwa asil pemikiran beberapa kepala akan lebih baik dan kaya
daripada hasil pemikiran satu kepala.
Unsur komunikasi antar anggota menghendaki agar
para pembelajar dibekali dengan berbagai ketrampilan berkomunikasi. Sebelum
menugaskan pembelajar dalam kelompok, perlu diajarkan cara-cara berkomunikasi.
Keberhasilan suatu kelompok juga bergantung pada kesediaan para anggotanya
untuk saling mendengarkan dan kemampuan mereka untuk mengutarakan pendapatnya.
Untuk mengevaluasi proses kerja kelompok dan
hasil kerjasama mereka pengajar perlu menjadwalkan waktu khusus bagi kelompok
agar selanjutnya bisa bekerja sama dengan lebih efektif. Evaluasi tidak harus
setiap kali ada kerja kelompok, namun bisa selang beberapa waktu setelah
beberapa kali pembelajar terlibat dalam kegiatan pembelajaran kooperatif.
Model pembelajaran kooperatif Inside-Outside-Circle yang telah diterapkan dalam pengabdian ini, dalam bahasa
Jerman dikenal dengan istilah Kugellager.
Model ini pertama kali dikembangkan di
Inggris oleh Kagan.
Tahap-tahap penerapan metode Inside Outside Circle dapat diuraikan seperti berikut :
1. Separuh
kelas (atau seperempat jika jumlah siswa terlalu banyak) berdiri membentuk
lingkaran kecil dan menghadap ke luar.
2. Separuh
kelas lainnya membentuk lingkaran diluar lingkaran pertama menghadap ke
dalam.
3. Dua siswa yang berpasangan dari lingkaran kecil dan besar berbagi
informasi. Pertukaran informasi bisa dilakukan oleh semua pasangan dalam waktu
yang bersamaan.
4. Kemudian siswa yang di lingkaran kecil diam di tempat, sementara siswa
yang di lingkaran besar bergeser, satu atau dua langkah searah jarum jam.
5. Sekarang giliran siswa berada di lingkaran besar yang membagi informasi
demikian seterusnya.
METODE PENELITIAN
1.
Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian tindakan kelas
yang mengarah kepada peningkatan kmotivasi belajar peserta didik melalui metode
Inside Outside Circle pada pelajaran Matematika
kelas V SD Negeri No. 060876 Medan Timur.
2.
Subjek dan Objek Penelitian
Subjek Penelitian Tindakan
Kelas ini adalah siswa kelas V Sekolah Dasar Negeri 060876 Medan Timur yang
berjumlah 40 siswa, dengan jumlah siswa laki-laki 22 orang dan jumlah siswa
perempuan 18 orang. Sedangkan objek penelitiannya adalah metode Inside Outside Circle yang diharapkan
dapat meningkatkan motivasi belajar siswa pada mata pelajaran Matamatika Materi
Pokok Operasi Penjumlahan dan
Pengurangan Pecahan Dengan Metode Inside
Outside Circle di Kelas V SD
3. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini berlokasi di SD Negeri No.
060876 Jalan Gaharu Gg. Sekolah Kecamatan Medan Timur. . Pelaksanaannya dilakukan pada semester II
Tahun Ajaran 2011/2012. Dan
waktu penelitian adalah pada semester genap selama dua bulan dimulai dari bulan
April hingga Mei 2012.
4.
Operasi Variabel Penelitian
Adapun defenisi variabel dalam penelitian ini sebagai
berikut :
1.
Model cooperative learning tipe Inside-Outside-Circle
melatih siswa lebih tanggap menerima pesan dari orang lain, dan menyampaikan
pesan kepada temannya dalam kelompok.
2.
Motivasi belajar suatu keadaan atau kondisi yang mendorong,
merangsang atau menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu atau kegiatan
yang dilakukan untuk mencapai tujuannya.
5.
Prosedur Penelitian
Penelitian
ini direncanakan selama dua siklus yaitu siklus I dan siklus II. Pelaksanaan
tindakan kelas ini meliputi perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi.
Hasil refleksi siklus I digunakan sebagai acuan dalam menentukan perbaikan pada
siklus II. Sedangkan hasil refleksi siklus II akan digunakan sebagai acuan
untuk rencana tindak lanjut pembelajaran selanjutnya. Desain penelitian yang
dilaksanakan adalah desain PTK Kemmis dan Mc. Taggart (dalam Dewi 2010:122)
![]() |
Gambar 3
Desain
Penelitian Tindakan Kelas Menurut Kemmis dan Mc. Taggart
Siklus I
1.
Perencanaan
Kegiatan yang dilakukan pada
tahap ini yaitu :
- Menyusun
angket motivasi belajar siswa
- Melakukan
observasi awal untuk menemukan model dan format penerapan tindakan pada
siklus 1 yang masing-masing siklus terdiri dari 2 kali pertemuan
- Menyussun
rencana pembelajaran untuk setiap pertemuan dan membuat scenario pembelajaran
dengan penerapan metode Inside
Outside Circle.
- Menyusun
lembar observasi
- Menyiapkan
media pembelajaran
2.
Pelaksanaan
Peneliti melaksanakan pembelajaran dengan menerapkan
tipe/ model pembelajaran Inside Outside
Circle sesuai dengan skenario yang sudah disusun pada tahap perencanaan
sebagai berikut :
a.
Menyusun skenario pembelajaran yang
meliputi :
b.
Kegiatan awal
-
Salam pembuka
-
Mengkondisikan kelas
-
Apersepsi
c.
Kegiatan inti.
-
Guru akan menjelaskan materi pelajaran yang
akan dipelajari.
- Guru membagi kelas menjadi 2 kelompok
besar. Tiap-tiap kelompok besar terdiri dari 2 kelompok lingkaran dalam dengan
jumlah anggota 20 dan kelompok lingkaran luar terdiri dari 20 orang.
Masing-masing kelompok besar yaitu anggota kelompok lingkaran dalam berdiri
melingkar menghadap keluar dan anggota kelompok lingkaran luar berdiri
menghadap ke dalam.
- Guru memberikan tugas pada tiap-tiap
pasangan yang berhadap-hadapan itu.
- Tiap-tiap pasangan diberikan waktu
secukupnya untuk berdiskusi, anggota kelompok lingkaran dalam bergerak
berlawanan arah dengan anggota kelompok lingkaran luar. Setiap pergerakan itu
akan terbentuk pasangan-pasangan ini wajib memberikan informasi berdasarkan
hasil diskusi dengan pasangan asal, demikian seterusnya. Pergerakan baru
diberhentikan jika anggota kelompok lingkaran dalam dan luar sebagai pasangan
asal bertemu kembali.
- Kemudian tiap-tiap kelompok memaparkan
hasil diskusi di tiap-tiap kelompok besar tersebut sehingga terjadilah diskusi
antar kelompok besar.
-
Guru memberi
ulasan dan mengevaluasi hal-hal yang telah didiskusikan.
d. Kegiatan
akhir
-
Menyimpulkan materi pelajaran.
-
Memberikan pekerjaan rumah.
-
Salam penutup.
3.
Pengamatan
Observasi yang
dilaksanakan meliputi implementasi dalam monitoring pada proses pembelajaran di
kelas secara langsung yang meliputi aktifitas guru dan anak didik dalam
pembelajaran yang bertujuan untuk mengetahui kesesuaian tindakan dengan rencana
yang telah disusun dan mengetahui sejauh mana pelaksanaan tindakan dapat
menghasilkan perubahan sesuai dengan
yang diharapkan.
4.
Refleksi
Kegiatan ini dilaksanakan untuk mempertimbangkan
pembelajaran yang dilakukan serta melihat kesesuaian yang dicapai dengan yang
diinginkan dalam pembelajaran yang pada akhirnya ditemukan kekurangan untuk
diperbaiki pada siklus kedua.
Siklus
II
Jika siklus pertama dijalankan dan
belum menunjukkan hasil, maka dilaksanakan siklus kedua dengan tahapan-tahapan
sebagai berikut :
1.
Perencanaan
Prosedur ini sama dengan
siklus I, tahap pembelajran ini dilakukan untuk memperbaiki kekurangan yang
ditemukan pada siklus I. Dimana penelitian memfokuskan kesulitan yang dialami
siswa. Adapun kegiatan yang dilakukan pada tahap ini yaitu :
a.
Menyusun angket motivasi belajar siswa
b.
Melakukan observasi awal untuk menemukan model
dan format penerapan tindakan pada siklus II yang masing-masing siklus terdiri
dari 2 kali pertemuan
c.
Menyussun rencana pembelajaran untuk setiap
pertemuan dan membuat scenario pembelajaran dengan penerapan metode Inside Outside Circle.
d.
Menyusun lembar observasi
e.
Menyiapkan media pembelajaran
2.
Pelaksanaan
tindakan
Pada tahap ini, kegiatan yang
dilaksanaan adalah melaksanakan skenario kegiatan yang telah direncanakan
sesuai dengan refleksi dan analisis data
siklus I.
a. Menyusun
skenario pembelajaran yang meliputi :
b. Kegiatan
awal
-
Salam pembuka
-
Mengkondisikan kelas
-
Apersepsi
c.
Kegiatan inti.
-
Guru akan menjelaskan materi pelajaran yang
akan dipelajari.
- Guru membagi kelas menjadi 2 kelompok
besar. Tiap-tiap kelompok besar terdiri dari 2 kelompok lingkaran dalam dengan
jumlah anggota 20 dan kelompok lingkaran luar terdiri dari 20 orang.
Masing-masing kelompok besar yaitu anggota kelompok lingkaran dalam berdiri
melingkar menghadap keluar dan anggota kelompok lingkaran luar berdiri
menghadap ke dalam.
- Guru memberikan tugas pada tiap-tiap
pasangan yang berhadap-hadapan itu.
- Tiap-tiap pasangan diberikan waktu
secukupnya untuk berdiskusi, anggota kelompok lingkaran dalam bergerak
berlawanan arah dengan anggota kelompok lingkaran luar. Setiap pergerakan itu
akan terbentuk pasangan-pasangan ini wajib memberikan informasi berdasarkan
hasil diskusi dengan pasangan asal, demikian seterusnya. Pergerakan baru
diberhentikan jika anggota kelompok lingkaran dalam dan luar sebagai pasangan
asal bertemu kembali.
- Kemudian tiap-tiap kelompok memaparkan
hasil diskusi di tiap-tiap kelompok besar tersebut sehingga terjadilah diskusi
antar kelompok besar.
-
Guru memberi
ulasan dan mengevaluasi hal-hal yang telah didiskusikan.
d.
Kegiatan akhir
-
Menyimpulkan materi pelajaran.
-
Memberikan pekerjaan rumah.
-
Salam penutup.
3.
Pengamatan
Seperti pada siklus I, observasi dilakukan
untuk melihat parubahan-perubahan yang terjadi pada siswa yang belajar. Dan
pada siklus II ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan tindakan
terhadap perubahan tingkat pemahaman siswa dengan kondissi yang diberikan. Pada
tahap ini yang mengobservasi adalah guru kelas V sebagai pengamat dan yang
diobservasi adalah seluruh siswa kelas V pada saat proses pembelajaran.
4. Refleksi
Refleksi pada siklus II,
digunakan sebagai dasar pengambilan keputusan. Apakah kegiatan yang dilakukan
sudah berhasil atau belum berhasil. Apabila pada siklus II masih banyak siswa
yang belum meningkat hasil belajarnya, maka akan dilanjutkan pada siklus III.
Namun jika telah memenuhi indikator keberhasilan, maka tidak perlu dilakukan
kesiklus berikutnya.
6.
Teknik Pengumpulan Data
Sesuai
dengan pelaksanaan penelitian, yang digunakan untuk mengumpulkan data terdiri
dari pengamatan (observasi) dan angket.
- Pengamatan (Observasi)
Dalam
hal ini penulis menggunakan lembar observasi yang mengacu pada indikator
peningkatan motivasi belajar peserta didik yang dilaksanakan pada kondisi awal,
siklus I, dan siklus II. Di mana observasi dilakukan oleh guru/peneliti
terhadap objek penelitian (peserta didik) dan terhadap cara guru mengajar.
Adapun kriteria untuk penilaian observasi menurut Riduwan
(2010:13) adalah :
Keterangan Nilai : Nilai 4 = A Kriteria
Penilaian : A = Sangat Baik
Nilai 3 = B B
= Baik
Nilai 2 = C C
= Cukup
Nilai 1 = D D
= Kurang
- Angket
Dalam
hal ini penulis menggunakan angket yang mengacu pada indikator peningkatan
motivasi belajar peserta didik. Angket diisi oleh objek penelitian (peserta
didik) pada siklus I pertemuan 2 dan siklus II pertemuan IV.
Untuk
pernyataan angket berbentuk positif, pemberian skor dengan menggunakan kriteria
menurut Riduwan (2010:13) sebagai berikut :
SS (Sangat
Sering) diberi skor 5
S
(Sering) diberi skor 4
JR
(Jarang) diberi skor 3
JS
(Jarang Sekali) diberi skor 2
HTP
(Hampir Tidak Pernah) diberi skor 1
7.
Teknik Analisis Data
Cara
menghitung persentase kreativitas belajar peserta didik berdasarkan lembar
observasi dan angket adalah sebagai berikut :
Hasil
skor yang diperoleh pada tiap-tiap aspek dipersentasekan dan dikualifikasi
untuk membuat kesimpulan mengenai tingkatan motivasi belajar peserta didik
dalam pembelajaran.
Tabel 3.1 Kriteria Penilaian
|
Ketuntasan
|
Kriteria
|
|
80% -
100%
60% -
79 %
40% -
59%
20% -
39%
0% -
19%
|
Sangat
baik
Baik
Cukup
Kurang
Sangat
kurang
|
Sumber :
Riduwan (2010:15)
Menurut
Sudijono (2009:43) untuk mengukur variabel motivasi belajar peserta didik
secara klasikan dapat dirumuskan :
Keterangan :
f =
Frekuensi yang sedang dicari
N = Number
of Class (Jumlah frekuensi/banyaknya individu)
p = Angka persentase
Persentase
yang ingin dicapai pada tingkat motivasi belajar siswa adalah 60% - 79 %.
1.
Jadwal Penelitian
Penelitian dilaksanakan di SD Negeri No. 060876 Medan
Timur yang berada di Jln.Gaharu Gg. Sekolah Kec. Medan Timur, selama dua bulan
mulai dari observasi sebelum siklus, pelaksanaan tindakan, analisis data hingga
penulisan hasil penelitian. Secara ringkas jadwal penelitian dapat dilihat pada
tabel berikut.
JADWAL PENELITIAN
|
No.
|
Kegiatan
|
Minggu/Bulan/Tahun 2012
|
|||||||||||
|
April
|
Mei
|
Juni
|
|||||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
||
|
1.
|
Meminta izin mengadakan penelitian kepada
kepala sekolah
|
√
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2.
|
Observasi awal
|
√
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3.
|
Pertemuan 1 siklus I
|
|
√
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4.
|
Pertemuan 2 siklus I
|
|
√
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5.
|
Evaluasi siklus I
|
|
√
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6.
|
Pertemuan 3 siklus II
|
|
|
√
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7.
|
Pertemuan 4 siklus II
|
|
|
√
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
8.
|
Evaluasi siklus II
|
|
|
√
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
9.
|
Meminta izin pada kepala sekolah bahwa
penelitian telah selesai
|
|
|
|
|
√
|
|
|
|
|
|
|
|
|
10.
|
Analisis data
|
√
|
√
|
√
|
√
|
√
|
|
|
|
|
|
|
|
|
11.
|
Penulisan laporan hasil penelitian
|
|
|
|
|
|
√
|
√
|
√
|
|
|
|
|
HASIL PENELITIAN DAN
PEMBAHASAN
Berdasarkan
hasil penelitian pada siklus I dan siklus II yang telah dilakukan oleh
peneliti, maka terjadi perubahan selama penelitian yang dapat dilihat pada
tabel berikut :
Tabel
4.8 Hasil Keseluruhan Persentase
Motivasi Belajar Siswa Berdasarkan Lembar Angket

Dari
data hasil lembar angket di atas dapat dilihat bahwa motivasi belajar dari tiap
siswa mengalami peningkatan yang cukup baik. Persentase motivasi belajar siswa
secara klasikal dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel
4.9 Rekapitulasi Hasil Penelitian
|
No.
|
Aspek
|
Jumlah Siswa
|
Rata-Rata
|
Kriteria
|
|
1.
|
Kondisi Awal
|
6
|
15
|
Sangat Kurang
|
|
2.
|
Siklus I
|
21
|
52,5
|
Cukup
|
|
3.
|
Siklus II
|
33
|
82,5
|
Sangat Baik
|
Dengan
menerapkan metode Inside Outside Circle dapat dinyatakan bahwa motivasi belajar siswa meningkat dalam pelajaran
Matematika materi operasi
penjumlahan dan pengurangan pecahan dengan metode Inside Outside Circle.
Untuk lebih jelasnya, penjelasan di atas dapat dilihat pada gambar grafik
tentang rata-rata kelas saat kondisi awal, siklus I, dan siklus II.
Grafik
Rata-Rata
Kelas pada Kondisi Awal, Siklus I, dan Siklus II

KESIMPULAN DAN SARAN
1.
Kesimpulan
Berdasarkan hasil temuan dan data penelitian
yang dilakukan terhadap peningkatan motivasi belajar siswa pada pokok bahasan operasi
penjumlahan dan pengurangan pecahan dengan menggunakan metode Inside
Outside Circle di SD Negeri 060876 Medan Timur, maka peneliti membuat kesimpulan sebagai
berikut :
1.
Pembelajaran dengan menggunakan metode Inside Outside Circle dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dalam mata
pelajaran Matematika materi pokok operasi penjumlahan dan pengurangan pecahan
(hipotesis diterima).
2.
Metode Inside Outside Circle
merupakan pendekatan yang mengorientasikan pada aktivitas siswa pada kadar yang
tinggi dalam pembelajaran. Pembelajaran siswa menjadi lebih aktif dan kreatif,
karena pendekatan ini melibatkan siswa dalam pembelajaran. Siswa sangat
berperan dalam kegiatan belajar mengajar guru hanya menjadi motivator dan
fasilisator.
3.
Dengan Metode Inside Outside Circle dalam
pembelajaran Matematika dapat meningkatkan motivasi belajar siswa. Hal ini
dapat dilihat adanya peningkatan pada 6 indikator motivasi belajar, yaitu : 1)
tekun menghadapi tugas, 2) ulet menghadapi kesulitan, 3) menunjukkan minat yang
tinggi terhadap bermacam-macam masalah, 4) bekerja mandiri, 5) dapat
mempertahankan pendapatnya, 6) bekerja sama dalam mencari dan memecahkan masalah.
4.
Dengan metode Inside Outside Circle
pada pembelajaran Matematika dapat meningkatkan kualitas proses pembelajaran
yang dilakukan guru dan peningkatan kualitas hasil belajar siswa.
5.
Rata-rata kelas motivasi belajar siswa
yang diajarkan dengan menggunakan metode Inside
Outside Circle lebih baik daripada
sebelumnya. Hal tersebut terlihat dari kondisi awal hanya 6 orang siswa yang
memiliki kreativitas belajar baik atau sekitar 15% (sangat kurang), siklus I
ada 21 orang yang memiliki kreativitas belajar baik atau sekitar 52,5% (cukup),
siklus II sudah mengalami peningkatan yaitu sudah 33 orang siswa yang memiliki kreativitas
belajar yang baik yaitu 82,5% (sangat baik).
2.
Saran
Berdasarkan
hasil penelitian dan kesimpulan di atas, dapat dikemukakan beberapa saran,
yaitu :
1.
Kepala sekolah memberikan pelatihan,
menerangkan program-program pelatihan untuk peningkatan keterampilan guru dalam
penerapan cooperative learning untuk meningkatkan motivasi belajar siswa.
2.
Hendaknya diawal pembelajaran guru
selalu memberikan motivasi dengan cara pemberian pujian agar siswa lebih
percaya diri dan semangat dalam mengikuti pelajaran dikelas.
3.
Hendaknya guru menggunakan metode Inside Outside Circle dalam pembelajaran dengan menyesesuaikan dengan
materi yang diajarkan.
4.
Orangtua mendukung siswa untuk kegiatan
belajar mengajar dangan cara menyediakan sarana dan prasarana kegiatan belajar
mengajar.
5.
Bagi peneliti sendiri, sekiranya hasil
penelitian tindakan kelas ini dapat dijadikan suatu keterampilan serta
pengetahuan untuk menambah wawasan dalam mendidik siswa SD.

alhamdulillah mbk uii, semoga kita bisa saling berbagi informasi
BalasHapus